KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr Wb
            Puji dan Syukur kita panjatkan ke haribaan Alloh swt, atas curahan dan limpahan rahmat serta karunianya kepada kita, sehingga kita masih bisa menghirup udara kehidupan serta masih bisa melaksanakan amal ibadah. Sholawat beserta salam semoga selamanya tercurahkan kepada Nabi Muhammad Saw beserta keluarganya, Sahabatnya serta semua pengikut jejak langkahnya sampai hari Qiyamat Amiin Ya Robbal Alamain.
            Al Qur’an adalah kitab suci Ummat Islam yang di tulis dalam huruf serta bahasa Arab yang mengandung nilai sastra yang tinggi sehingga kita  tidak cukup mengandalkan kaidah nahwiyah dan sorfiyah saja apalagi dengan mengandalkan terjemah sehingga kita tidak bisa menemukan makna – makna yang tersirat dalam Al Qur’an.
            Untuk mengistinbat hukum dari sebuah ayat kita perlu mengetahui kaidah – kaidah tertentu yang dipakai standar untuk pemaknaan Al Qur’an itu sendiri, maka dalam makalah ini sengaja kami menguariakn sedikoit masalah kalimat haqiqat dan majaz
            Akhirnya hanya kepada Allohlah kita semua beribadah berserah diri












DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……………………………………………………….          i
DAFTAR ISI…………………………………………………………………          ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang……………………………………………………………          1
1.2 Perumusan Makalah……………………………………………………….         1
1.3 Tujuan penulisan Makalah…………………………………………………        1
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Haqiqat………………………………………………………..         2
2.2 Pembagian Haqiqat……………………………………………………….          2
2.3 Pengertian Majaz…………………………………………………………          2
2.4 Pembagian Majaz…………………………………………………………          4
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan………………………………………………………………..         11
3.2 Rekomendasi………………………………………………………………        11
DAFTAR PUSTAKA

 
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
            Al Qur’an mengandung nilai sastra arab yang tinggi,sehingga untuk memahami makna – makna yang terkandung dalam Al Qur’an tidak cukup hanya mengandalkan Al Qur’an terjemah saja, akan tetapi perlu dipelajari pula makna –makna Al Qur’an yang di atur dalam ilmu Balagoh baik itu ilmu Bayan, Badi’ ataupun ilmu ma’ani.
            Oleh karena itu, maka dalam makalah ini kami bahas sedikit dari ilmu balagoh terutama dalam masalah kalimat haqiqat dan kalimat majaz yang masuk dalam lingkungan ilmu balagoh dan sangat dibutuhkan juga dalam kajian ilmu Ushul fiqih sebagai bahan untuk mengistinbat sebuah hukum fiqih dari ayat – ayat Al Qur’an atau pun As sunnah.
1.2 Rumusan Makalah
            Dalam penyusunan makalah ini, maka permasalahannya di rumuskan pada :
      1.            Pengertian Haqiqat
      2.            Pembagian Haqiqat
      3.            Pengertian Majaz
      4.            Pembagian Majaz
a)      Majaz Mursal
b)      Majaz Isti’arah
1.3 Tujuan Penulisan Makalah
            Tujuan dari penulisan makalh ini adalah :
      1.            Menjelsakan pemaknaan lafad dari segi haqiqat dan majaz
      2.            Dapat memahami  Makna Al Qur’an dengan benar sesuai dengan yang dimaksudkan Oleh Alloh Swt.








BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Pengertian hakikat
            Menurut syeh Tajudin Abdul Wahab As Subqi dalam kitab Jam’ul Jawami  Lafad Hakikat adalah :
لفظ مستعمل فيما وضع له ابتداء
ِArtinya :”lafad yang di gunakan dalam makna yang di tentukan untuk lafad tersebut sejak semula.
             Maka tidak termasuk kedalam lafadz hakikat yaitu lafadz yang tidak digunakan atau kesalahan. Seperti perkataan seseorang :” ambilah kuda ini, sambil dia menunjukan himar.
2.2  Pembagian hakikat
            Lafadz haqiqat dapat di bagi menjadi 3 bagian,yaitu :
1.      Lafad haqiqat lugowi
       Yaitu lafad yang ditetapkan oleh ahli Bahasa baik itu secara  istilah atau menunggu adanya sebuah penetapan, seperti kata اسد    {Harimau/ Singa} dipakai untuk sebutan hewan yang suka mencakar.
2.      Lafad haqiqat urfi
       Yaitu lafadz yang ditetapkan oleh ahli urfi /kebiasaan,seperti kata دابة  digunakan untuk hewan yang berkaki empat seperti himar. Padahal secara bahasa دابه   adalah nama untuk setiap binatang yang suka merayap dimuka bumi ini.
3.      Lafad haqiqat Syar’i
       Yaitu lafadz yang ditetapkan oleh Syari’ {Alloh danRosulnya } seperti kata Sholat di gunakan untuk Ibadah yang diawali dengan bacaan takbir dan diakhiri dengan bacaan Salam.
2.3  Pengertian Majaz
            Yang di maksud dengan lafad  yang majaz adalah :
الكلمة المستعملة في غير ما وضعت له لعلقة اي مناسبة بين المعنى الأصلي و المعنى الفرعي مع قرينة مانعة عن ارادة المعنى الأصلي
Artinya : Kalimat yang digunakan pada makna bukan keharusannya karena adanya hubungan yaitu saling berhubungan antara makna asal dan makna far’I serta adanya qorinah {alasan} yang mencegah dari penggunaan makna asal.
            Dari definisi di atas dapat kita uraikan satu persatu tentang kriteria lafad yang majaz yaitu :
      1.            Kalimat Majaz mufrod harus terbentuk dari kalimat, maka Majaz  murokab dan isnad majaz aqli tidak termasuk lafad yang majaz karena itu bisa jadi majaz ketika telah menjadi kalam.
      2.            Kalimat majaz harus terdapat dalam kalimat yang harus di gunakan, maka pada kalimat yang tidak suka digunakan tidak ada majaz.\
      3.            Digunakan dalam makna yang lain{ makna far’i} bukan pada makna asli, karena kalau digunakan pada makna asli bukan majaz tapi haqiqat.
      4.            Harus ada Alaqoh atau hubungan antara makna asli dan makna far’i , maka tidak termasuk majaz jika menggunakan kalimat pada makna far’i tanpa ada nya hubungan dengan makna asli, karena itu adalah hanya main – main.
      5.            Harus ada Qorinah atau alasan yang menghalangi penggunaan makna asli, maka jika menggunakan kalimat pada makna far’I dan antara makna far’I dan makna asli nya ada hubungan namun tidak ada alasan,menurut ulama ahli bayan itu bukan majaz yang sah tetapi majaz yang fasid.
            Qorinah atau alasan yang mencegah penggunaan makna asal ada dua bagian, yaitu :
      1.            Qorinah lafdiyyah, yaitu Qorinah yang di ceritakan dalam susunan sebuah perkataan. Seperti pada conto kalimat : رأيت اسدا في الحمام  yang artinya “Saya melihat harimau di dalam WC, qorinahnya adalah lafad في الحمام   { di WC}. Jadi tidak mungkin ada harimau di dalam WC maka hariamu di sana harus di alihkan kepada makna far’I yaitu رجل سجاع   atau laki- laki yang gagah.
      2.            Qorinah Maknawiyah /Haliyah yaitu Qorinah yang tidak diceritakan dalam susunan perkataan, seperti menyangka tidak pantas secara lugowi atau secara aqli jika menggunakan kalimat pada makna aslinya conto ada yang berkata : Saya melihat harimau” padahal dia tidak bepergian kemana – mana.
2.4  Pembagian Majaz
            Secara garis besarnya majaz bisa dibagi menjadi dua bagian,yaitu :
1.            Majaz Mursal, yaitu majaz yang alaqohnya tidak saling menyerupai atau tidak ada titik persamaan. Contah dalam firman Alloh :
يجعلون اصابعهم في اذانهم
Artinya : Orang – orang munafik menjadikan jari – jari tangan mereka kedalam telinga – telinga mereka
                 Yang digunakan sebagai contoh pada kalimat di atas adalah lafad  اصابعهم  yang jika dimaknai dengan makna aslinya adalah jari –jari tangan, tetapi kedepannya ada lafad في ادانهم   yang berarti ke dalam telinga – telinga mereka, nah secara adat tidak mungkin memasukan seluruh jari tangan ke dalam telinga, maka mau tidak mau lafad اصابع   harus di alihkan maknanya kepada makna far’I yakni  الانامل  yang berarti ujung jari dan antara  اصابع  dan انامل  ada hubungan yaitu اصابع   adalah كل   dan lafadz انامل  adalah juz. Maka dapat di taqrir seperti berikut :
اطلقة الأصابع الذي هو الكل واريد منها الأنامل الذي هو الجزء ارادة مجازية مجازا مرسلا من باب اطلاق الكل وارادة الجزء فالمجاز علي سبيل المجاز المرسل
                 Berikut ini adalah berbagai macam alaqoh yang ada pada majaz mursal bersama contoh – contohnya :
No
Alaqoh /Percantelan
Contoh Kalimat
Makna yang dimaksud
      1.             
كل   _  جزء
يجعلون اصابعهم في اذانهم
الأنامل
      2.             
جزء  _  كل
لا اله الا الله كلمة طيبة
كلم طيب
      3.             
حال -  محال  
خذوا زينتكم
الثياب
      4.             
محال – حال
عند كل مسجد
الصلاة
      5.             
سبب – مسبب
رعينا الغيث
النبات
      6.             
مسبب – سبب
امطرة السماء نباتا
غيثا /ماء
      7.             
ظرف  - مظروف
شربت الكوز
الماء
      8.             
مظروف – ظرف
اخدت الماء
الكوز
      9.             
ماأل – مايؤل
اني اعصر خمرا
عنابا
  10.             
مايؤل – ماأل
وأتوا اليتمى اموالهم
البالغين
  11.             
لازم – ملزوم
ارتفعت الضوء
الشمش
  12.             
ملزوم  - لا زم
وأنزلنا عليهم سلطانا لا يتكلمون  
لا يدلون
  13.             
مجاوَر – مجاِور
نظفت البركة من الماء
من الطحلب
  14.             
مجاِور – مجاَور
صببت الطحلب
الماء
  15.             
متعلق - متعلق
يأيكم المفتون
الفتنه
  16.             
متعلق - متعلق
هذا خلق الله
مخلوق الله
  17.             
خاص  - عام
فلاتقل لهما اف
الأذاءت
  18.             
عام – خاص
الذي قال لهم الناس
نعيم ابن الأسجعي
  19.             
مطلق  - مقيد
قك رقبة او اطعام في يوم
رقبة مؤمنة
  20.             
الة – مألوت
واجعل لي لسانا صدق في الأخرين
كلام صدق

2.            Majaz Ista’arah, yaitu Majaz yang alaqohnya ada titik persamaan. Contoh :
اهدنا الصراط  المستقيم
Artinya: Tunjukanlah kami kepada jalan yang lurus.
            Makna yang dimaksud dari  صراط المستقيم  secara lugowi memang jalan yang lurus, akan tetapi disini ada qorinah yaitu lafad اهدنا yang artinya adalah permohonan agar di beri petunjuk yang mukhotobnya adalah Alloh swt, maka kurang pantas jika diartikan dengan jalan yang lurus, tapi lebih pantasnya adalah agama Islam. Titik sama antara jalan yang lurus dengan agama Islam adalah sama – sama dapat sampai pada tujuan dengan selamat. Orang yang melalui jalan yang lurus akan sampai kepada tujuannya dengan selamat, begitu juga orang yang mengikuti agama Islam, ia akan sampai  pada tujuannya dengan selamat  sampai tujuan dengan selamat.
Taqrirannya adalah :
شبه الدين الحق بالصراط بجامع الوصول وبلوغ النجاة في كل ذكر المشبه به وهو الصراط وحذف المشبه وهو دين الحق واستعير لفظ دال على المشبه به وهو الصراط للمشبه وهو الدين الحق فالمجاز على سبيل المجازالأستعارة سميت مجازا لأن الكلمة المستعملة في غير ما وضعت له سميت استعارة لأن العلاقة فيها المشابهة وهي الوصول وبلوغ النجاة
            Dilihat dari segi musabbbah dan musabbah bih, baik itu diceritakan atau tidaknya terbagi dua, yaitu:
a)      Majaz Isti’arah Tasrihiyyah
            Yaitu Majaz yang diceritakan padanya Musabbah bih dan Musabbah nya di buang. Isti’arah tasrihiyyah ini terbagi dua, yaitu :
o   Isti’arah Tasrihiyyah asliyyah
Yaitu majaz isti’arah tasrihiyyah yang berjalan pada kalimat masdar atau isim jamid { yang tidak bisa di tasrif }. Contoh Tasrihiyyah asliyyah yang keluar dari isim jamid adalah:
رأيت اسدا في الحمام
Arti secara lugowi adalah “Saya melihat harimau di WC.
Yang dijadikan contoh adalah lafad اسدا   yang kedudukanya jadi Musabbah bih yang dibentuk dari  isim jamid, karena tidak dapat di tashrif.
Taqrirannya adalah :
شبه الرجل سجاع  باالاسد  بجامع السجاعة في كل ذكر المشبه به وهو الاسد  وحذف المشبه وهو الرجل السجاع واستعير لفظ دال على المشبه به وهو الاسد للمشبة وهو الرجل الشجاع  فالمجاز على سبيل المجازالأستعارةالتصريحية الأصلية  سميت مجازا لأن الكلمة المستعملة في غير ما وضعت له سميت استعارة لأن العلاقة فيها المشابهة سميت تصريحية لأنه ذكرفيها المشبه به وحذف المشبة سميت  اصلية لأنه جرت في اسم  جامد وهو الأسد
Contoh Isti’arah Tasrihiyyah asliyyah yang dibentuk dari masdar adalah :
فأذاقها الله لباس الجوع والخوف
Makna asli dari اللباس  adalah pakaian, akan tetapi lafad اللباس  disini diidofatkan kepada lafad  الجوع  maka lafad اللباس  jangan diartikan dengan makna asal secara lugowi, tetapi harus memakai makna lainnya yaitu ماغسي الانسان عند الجوع والخوف من اثر الضرر   yaitu warna yang menutupi kulit pada saat takut atau lapar yaitu pucat. Hubuangan antara اللباس dengan ماغسي الانسان عند الجوع والخوف من اثر الضرر   adalah استمال  atau احاطة  yaitu meliputi.
Taqrirannya adalah :
شبه ماغشي الانسان عند الجوع باللباس بجامع الاحاطة في كل ذكر المشبه به وهو اللباس وحذف المشبه وهو ماغشي الانسان واستعير لفظ دال على المشبه به وهو اللباس للمشبه وهو ماغشي الانسان فا المجاز على سبيل المجاز الاستعارة التصريحية الاصلية سمية مجازا معلوم سميت تصريحية معلوم سميت اصلية لانه جرت في مصدر وهو اللباس
o   Isti’arah Tasriihiyyah Tab’iyyah
Yaitu majaz isti’arah tasrihiyyah yang berjalan pada kalimat fiil atau kalimat mustaq {sigot kalimat yang selain masdar dan fiil }atau berjalan pada huruf. Contoh yang keluaran dari kalimat fiil adalah :
نطقت الحال بكذا
           Yang dijadikan contoh disini adalah lafad نطقت    yang artinya adalah berbicara, akan tetapi makna yang dimaksud disini adalah دال  yang artinya adalah menunjukan, karena lafad نطق  di sandarkan dengan kalimat fail lafad الحال , maka tidak bisa di beri makna berbicara, karena berbicara adalah sifat bagi manusia bukan sifat untuk perbuatan maka lafad نطق  disini harus di beri makna yang sesuai dengan kalimat الحال  yaitu lafad دال  yaitu menunjukan. Hubungan antara نطق  dengan lafad دال  adalah sama – sama menjelaskan, karena tujuan pembicaraan adalah dan menunjukan adalah sama – sama menjelaskan suatu perkara.
          
Contoh Isti’arah Tasrihiyyah taba’iyyah yang keluaran dari mustaq adalah :
الحال ناتقة بكذا
Contoh Isti’arah Tasrihiyyah taba’iyyah yang keluaran dari huruf  adalah :
لأصلبنكم في جذوع النخل
Arti secara lugowi adalah : “ Aku akan menyalib kamu sekalian di dalam pelapah kurma.
           Yang dimaksud disini bukan di dalam pelapah kurma, tapi di atas pelapah kurma. Yang dijadikan contoh adalah lafad في  yang makna aslinya adalah ظرفية   akan tetapi karena majrurnya lafad جذوع النخل  serta muta’alaqnya lafad لاصلبنكم  maka lafad في   disini tidak bisa di beri makna asli yaitu ظرفية  karena mustahil secara adat menyalib di dalam pelapah kurma, bisa juga menyalib di atas pelapah kurma,maka lafad في  disini harus diberi makna استعلاء   yaitu makna untuk huruf على  hubungan antara ظرفيه  dengan استعلاء  adalah tetap berada.
b)      Majaz Isti’arah makniyyah
            Yaitu kalimat majaz yang diceritakan Musyabbah dan dibuang musyabah bih nya. Bisa diketahuinya ada musyabah bin yang dibuang adalah karena adanya sifat yang diceritakan yang mana sifat tersebut khusus untuk musyabbah bih tidak pantas adanya pada musyabbah.
Contoh ;
انشبت المنية اظفارها بزيد
Arti secara lugowi adalah : Maut telah mencakarkan kuku –kuku nya kepada jaed. Yang dijadikan contoh adalah lafad المنية  sebagai Musyabbah yang diceritakan sementara Muyabbah bih nya yaitu الشبع  tidak dicerikan. Diketahuinya adanya musyabbah bih lafad الشبع  yaitu binatang buas adalah karena adanya sifat atau lawazim untuk binatang buas yaitu kuku – kuku nya.
            Hubungan antara maut dengan binatang buas adalah sama – sama merusak,karena orang yang di terkam maut pasti rusak, orang yang diterkam binatang buas pun pasti rusak.
            Dilihatdari segi bahwa kalimat tersebut di barengi dengan kalimat yang pantas untuk Musyabbah bih atau Musyabbah ,maka majaz isti’arah terbagi kepada tiga bagian, yaitu :
a)        Isti’arah Tarsyikhiyyah
                 Yaitu apabila pada isti’arah ada kalimat yang pantas untukMusyabbah bih, seperti yang ada pada contoh kalimat :
رأيت اسدا له لبد
Arti secara lugowinya adalah: Saya melihat harimau yang ada bulu tebal pada lehernya.
                 Pada kalimat ini lafad اشد  adalah sebagai musyabbah bin, musyabbahnya adalah lafad رجل سجاع  sementara hubungannya adalah sama –sma gagahnyanya .Sifat adanya bulu tebal pada lehernya sebagai tarsyiik atau sifat yang pantas untuk musyabah bih yaitu اسد  kalimat seperti ini di sebut dengan kalimat majaz isti’arah tasrihiyyah tarsyikhiyyah.
b)        Isti’arah Tajridiyyah
                 Yaitu apabila pada isti’arah terdapat kalimat yang pantas untuk Musyabbah, seperti yang terdapat pada kalimat :
رأيت اسدا في الحمام يغتسل
Arti secara lugowinya adalah : Saya melihat harimau di dalam WC sedang mandi. 
c)        Isti’arah Mutlaqoh
                 Yaitu apabila pada isti’arah tidak terdapat kalimat yang pantas baikuntuk musyabbah maupun musyabbah bih. Contoh
رايت اسدا
Artinya : saya melihat laki- laki gagah yang diserupakan dengan harimau.

















BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
                 Lafad hakikat adalah lafad yang di gunakan pada makna asalnya, lafad majaz adalah lafad yang digunakan tidak pada makna asanya tapi pada makna far’inya karena ada hubungan serta ada qorinah yang mencegah untuk menggunakan makna asal.
                 Lafad Hakikat ada tiga yaitu, hakikat lugowi, hakikat urfi, dan hakikat syar’i. lafad Majaz terbagi dua yaitu majaz mursal dan majaz isti’arah. Isti’arah dilihat dari segi diceritakan dan tidak diceritakan musyabbah binatau musyabah ada dua yaitu Iati’arah tasrihiyyah dan isti’arah makniyyah. Isti’arah tasrikhiyyah ada dua yaitu ada yang asliyyah ada yang taba’iyyah. Dilihat dari segi kalilmat yang pantas untuk musyabah ataupun musyabah bih, isti’arah terbagi tiga yaitu tarsyikhiyyah,tajridiyyah dan mutlaqoh.
3.2 Rekomendasi
                 Alhamdulillah makalah singkat ini selesai disusun semoga dapat bermanfaat khusunya bagi penulis umumnya bagi semua rekan – rekan civitas akademik. Harapan bagi siapa saja supaya bisa menyempurnakan kkekurangan – kekurangan yang terdapat dalam makalah ini,supaya lebih bermanfaat lagi.














DAFTAR PUSTAKA
Tajudin Abdul Wahab Asubqi Jam’ul Jawami juz 1 Darul Fikr, Beirut Libanon 2005

Al Haj Jaja Abdul Jabbar Penjelasan sunda isti’arah  lil alamah sayyid ahmad zaini Dahlan Pesantrten Miftahul Huda Manonjaya Tasikmalaya Indonesia


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Biografi